Pada suatu waktu, Rasulullah SAW berkhutbah, ”Sesungguhnya, setiap manusia Allah SWT berikan dua pilihan antara hidup di dunia dan melakukan apa pun sesuai kehendaknya, lalu memakan apa pun yang ia inginkan, atau bertemu Tuhannya.”
Mendengar khutbah itu, Abu Bakar meneteskan air mata. Salah seorang sahabat lain berkomentar, ”Apakah kalian tidak kagum melihat Abu Bakar yang saleh ini, ketika Rasulullah SAW dalam khutbahnya mengatakan bahwa manusia itu diberi dua pilihan, antara memilih dunia atau lebih memilih bertemu dengan Tuhannya, Abu Bakar lebih memilih Tuhannya?”
Semua sahabat mengetahui bahwa Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang paling memahami apa yang Rasulullah SAW sabdakan. Tidak lama kemudian, Abu Bakar mendekati Rasulullah SAW dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tidak hanya memilih bertemu dengan Allah, saya bahkan akan mendarmabaktikan diri dan hartaku untukmu.”
Mendengar perkataan Abu Bakar, Rasulullah SAW lalu bersabda, ”Rasanya tidak ada seorang pun yang lebih amanah dalam persahabatan dan tanggung jawab terhadap hartanya, selain Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar). Seandainya aku akan menjadikan seseorang sebagai teman sejati, maka akan aku pilih Ibnu Abu Quhafah.” (HR Tirmidzi dari Abu al-Mu’alla).
Sejarah telah membuktikan bahwa, Abu Bakar adalah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW. Ia pula yang menemani Nabi SAW menyusuri padang pasir, keluar dari Makkah menuju Madinah. Ia pula yang mengkhawatirkan keselamatan Nabi SAW sewaktu di Gua Hira. Abu Bakar adalah sosok yang paling dermawan dalam membelanjakan harta bendanya di jalan Allah SWT. Abu Bakar memberikan KETELADANAN yang sangat berarti bahwa harta benda tidak ada nilainya dibandingkan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Abu Bakar menyadari harta akan bernilai sejati jika didermakan untuk orang lain dengan niat semata-mata karena Allah SWT.
…Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan….” (Al-Ma’idah: 48)
Ikhwah fillah rahimakumullah, seiring Semangat kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan memperluas cakupan kebaikan ke berbagai elemen masyarakat kota Surabaya, hikmah kisah Abu bakar diatas menyadarkan kita akan pentingnya sebuah KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN yang efektif yaitu KETELADANAN.
Setiap kita adalah pemimpin dan memimpin berarti memberikan Pengaruh kepada yang dipimpin. Kekuatan dan kelanggengan Pengaruh, dalam Islam, sangat Erat hubungannya dengan keteladanan. Tentunya, sebuah keteladanan yang dibingkai dengan kemurnian keikhlasan kepada Allah SWT. Karena kalau tidak tinggi kualitas keikhlasannya, banyak saja hal yang akan menjadikannya patah semangat, mundur teratur, patah arang, dari medan juang.
Kepada ikhwah fillah khususnya yang ada di struktur, baik DPD, MPD, DSD, DPC, DPRa bahkan ketua-ketua kelompok pembinaan, serta dimanapun antum diberikan amanah kepemimpinan, ingatlah bahwa Makna Keteladanan juga menuntut kita, para pemimpin, untuk mempunyai kemampuan dan militansi yang luar biasa, jauh melebihi yang dipimpinnya. Pemimpin adalah orang yang akan memberi semangat, kesadaran dan perjuangan kepada yang lain. Karena itu ia harus punya semangat, kesadaran dan kemampuan berjuang yang jauh lebih tinggi dari yang dipimpimnya. “Orang yang punya sedikit atau tidak punya sama sekali tidak mungkin akan mampu memberikan kepada orang lain, apalagi kepada orang banyak”
Kemudian pemimpin juga harus teguh pendiriannya, bermental baja, punya keyakinan yang kokoh. Yang bermental loyo, lemah, suka ngambek, bermental kerupuk, sedikit saja disiram langsung loyo, tentu tidak akan mungkin jadi pemimpin. Juga yang bermental baling-baling di atas bukit tidak akan mungkin jadi pemimpin. Ia akan membikin orang yang dipimpinnya jadi bingung.
Kita menyadari bahwa tantangan memperluas kebaikan semakin hari semakin berat. Orang-orang yang gerah dengan munculnya kebaikan tentunya tidak akan tinggal diam. Mereka tidak hanya sendiri-sendiri bahkan berjama’i untuk “nggembosi” kita agar berhenti berbuat baik. Karenanya Soliditas kader dan struktur harus terus dikuatkan dan jangan pernah bosan untuk terus melakukannya. Disamping pertemuan-pertemuan formal, ciptakan kesempatan munculnya suasana informal di tiap level kepengurusan dan juga di kelompok-kelompok pembinaan kita agar Allah menjaga nuansa Ukhuwwah di antara kita. Untuk membudayakan informal meeting ini tentunya ini juga membutuhkan keteladanan dari para pemimpin di setiap level kepengurusan. Langkah ini penting untuk menghadang segala fitnah yang mungkin ditudingkan kepada kita dan juga berbagai miss-communication diantara kita. Marilah kita jawab segala tudingan itu dengan Bukti Kebaikan yng terus dan konsisten kita lakukan di tengah masyarakat kota Surabaya, semoga keteladanan ini bisa Menggairahkan iklim kebaikan di setiap sudut kota, di kantor-kantor, di sekolah-sekolah, di pasar-pasar, di kampung-kampung, di gedung-gedung pemerintahan, di gedung-gedung perwakilan rakyat bahkan dengan kekuasaan Allah dan ikhtiar yang tidak pernah berhenti dari kita, sangat mungkin iklim kebaikan itu akan menembus di seluruh rumah di kota Surabaya. Allahu Akbar. INGATLAH ketika Rasulullah SAW memilih Mus’ab Alkhair (panggilan Mus’ab Bin Umair) menjadi Duta Baginda ke Yasrib (Madinah) hingga….
“Tidak ada satu pun rumah di Madinah melainkan salah satu ahli keluarganya telah memeluk Islam di tangan Mus’ab Alkhoir” (Fat)