“A dream is a Wish your heart makes”, begitulah judul sebuah lagu dari OST film klasik Cinderella. Impian adalah sebuah harapan yang muncul dari hati. Seperti apa impian kita, sangatlah tergantung pada sejauh mana “situasi” yang terjadi di dalam hati kita. Impian juga sering diartikan sebagai sebuah cita-cita jangka panjang dan “Sikap” adalah realisasi dari cita-cita kita. Karenanya, “Sikap” kita akan ditentukan oleh karakter “impian” apa yang kita miliki. “Mimpi” akan menentukan arah “sikap” kita.
Masa depan senantiasa diawali dari sebuah impian, sebuah fantasi, sebuah tujuan yang terlihat jauh di balik cakrawala dan proses menuju kesana tentunya membutuhkan sebuah harga yang harus kita bayar. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an Surat Ar-Ra’ad, ayat 11 yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
Ikhwah fillah, saudaraku semuanya yang kubanggakan, angka 20 % sudah ditentukan oleh para Qiyadah (Pemimpin) kita sebagai sebuah angka sejarah, sebuah angka yang ingin kita raih di Pemilu 2009, sebuah angka yang menjadi impian dan motivasi kita. Bagaimana kita mencapainya, sekali lagi, sangatlah tergantung pada sejauh mana “situasi” yang terjadi di dalam hati kita dan apakah “sikap” kita betul-betul mengarah pada pencapaian impian kita. Dan ketika kita sekarang berbicara tentang “bagaimana mencapai sebuah impian” maka kita sedang berbicara tentang “bagaimana menggapai sebuah keberhasilan”, “bagaimana menjemput sebuah kemenangan“ dan “bagaimana menjadi seorang Pemenang”. Karenanya, kita harus mulai belajar tentang apa yang disebut dengan FIQH KEMENANGAN.
Bagi kita, angka 20 % adalah sebuah motivasi. Sebuah ukuran pencapaian “peak performance” (prestasi terbaik) kita. Namun, jauh lebih penting dari sebuah pencapaian “angka” itu adalah seluruh “amal dan tadhiyah” (usaha dan pengorbanan) kita untuk menggapainya. Karena, tugas kita adalah bekerja dan bekerja, siang dan malam, terus menerus meningkatkan produktivitas dan Tugas Allah SWT – lah yang menilai dan memutuskan hasil dari seluruh kerja dan produk kita. Ust Hilmi aminuddin (Ketua Majelis Syuro) pernah menyampaikan bahwa : “Kemenangan Moral harus mendahului kemenangan material” dan inilah ukuran kemenangan bagi kita.
Paling tidak ada 3 hal yang mesti kita perhatikan agar kita bisa menjemput “impian” sekaligus mendapatkan “kemenangan” yang hakiki dari Allah SWT.
1. Mengakui Kekerdilan di hadapan Allah SWT
Yang diwujudkan dengan Amaliyah yaumiyah (amalan sehari-hari) dengan kualitas yang prima sesuai dengan takaran dan standard yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw. Ketundukan kepada Allah dengan penuh ketawadzu’an. Mengakui kekuasaan Allah dan mengharap pertolongan-Nya untuk men-sukses-kan perjuangan yang kita lakukan. Ini justru yang akan memberikan “energi kemenangan” dan menghilangkan “keragu-raguan” untuk melangkah. Seseorang yang sombong, kalaupun dia menang pada awalnya, sesungguhnya itulah awal dari kehancurannya. Ingatlah kisah Fir’aun, Namrud dan Abu Jahal. Seorang abu jahal, salah satu pembesar suku Quraisy yang sombong dan frontal sekali menentang Rasulullah SAW, tidak pernah mengira bahwa dia akhirnya terbunuh oleh seorang pengembala kambing, Abdullah Bin Mas’ud. Peristiwa itu adalah suatu hal yang tidak terprediksikan oleh semua kalangan termasuk dirinya sendiri. Marilah kita evaluasi diri, harus kita hindari, na’udzubillah mindzalik bahwa terlambatnya kemenangan yang kita impikan adalah karena kekeroposan moral yang kita miliki, jauhnya kualitas dan kuantitas amaliyah yaumiyah dari standar Rasulullah SAW. Na’udzubillah min dzalik (Kita berlindung dari Allah atas semua itu). Renungkanlah kandungan Al Qur’an dalam Surat Al Hajj : 77 yang berbunyi ““Hai orang-orang yang beriman ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan agar kamu mendapat kemenangan…”. Rumus kemenangan adalah ketika kita merasa kerdil dihadapan Allah swt namun kita tidak pernah putus asa untuk terus dan terus memproduksi kebaikan untuk kepentingan ummat.
2. Situasi Kejiwaan
Seorang pejuang sejati dan seorang pemenang senantiasa memiliki situasi kejiwaan yang prima. Tidak pernah merasa sedih, kendor dalam perjuangan apalagi putus asa. Tidak ada rumus seperti itu bagi seorang pemenang sejati. Tersebut dalam QS Ali Imron : 139 :” Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. Ayat ini turun ketika kaum muslimin baru saja mengalami “kekalahan materi” dalam perang uhud. Ayat ini datang bukan untuk mengembalikan “kekalahan materi” namun menegaskan kepada para sahabat bahwa mereka tetap menang di hadapan Allah SWT ketika mereka tidak mengalami “kekalahan moral”, mereka masih dalam keadaan beriman dan itulah yang menjadikan mereka tetap menjadi orang-orang yang paling tinggi (derajatnya). Ingatlah bahwa mencari materi itu jauh lebih mudah daripada membangun moral yang rapuh.
Situasi kejiwaan seperti ini perlu dijaga karena perjuangan ke depan masih panjang. Lihatlah bahwa jauh hari sebelum terjadi perang uhud sebenarnya Rasulullah saw sudah merencanakan sebuah peperangan yang lebih besar yaitu Perang Al Ahzab (Khandaq) dimana kaum muslimin menghadapi kekuatan Multinasional, seluruh kekuatan dari yahudi, musyrikin dan nashrani yang bersekutu. Karena besarnya peperangan ini maka dikabarkan jauh hari oleh Rasulullah saw. “Kekalahan” dalam perang uhud sempat membuat para sahabat sedih berlama-lama atau merasa lemah padahal ada peperangan berikutnya yang sedang menunggu. Karenanya kemudian diturunkan ayat berikutnya di QS Ali Imron 140 : “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..”. Kegagalan tidak membuat situasi kejiwaan kita rapuh tapi justru memicu kita untuk menarik hikmah dan segera bangkit kembali menyongsong dan menjemput kemenangan.
3. Memiliki Visi yang Jelas
Kita bukanlah paguyuban politik. Yang tahun ini milih partai A dan tahun depan milih partai B disesuaikan dengan kepentingan sesaat. Namun kita adalah Partai kader, sekelompok orang yang memiliki misi dan visi yang jelas. Allah berfirman dalam QS 3:104 : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Amar ma’ruf akan terus menjadi misi kita. Karenanya, jika proses amar ma’ruf ini lemah didalam diri dan partai kita maka “indikasi kekalahan” sudah nyata dihadapan kita. Ikhwah fillah, saudaraku semua yang kubanggakan, sesibuk apapun aktivitas siyasi (kepartaian) kita maka jangan pernah meninggalkan aktivitas tarbawiyah, jangan pernah meninggalkan proses saling mengingatkan diantara kita, ini lah salah satu ruh perjuangan kita. Dan inilah ciri seorang pemenang. Tidak pernah berhenti untuk menyeru kebaikan dan beramar ma’ruf nahi munkar walaupun kepada orang yang merasa jadi musuh-musuhnya. Senantiasa ada ruang untuk merubah seseorang. Amar ma’ruf inilah yang menjadikan kekuatan Islam menjadi kuat ketika Khalid bin Walid, Umar bin Khattab dan Abu Sofyan bergabung kepada Islam. (Fat)