JAKARTA, KOMPAS.com – Isu pluralisme kerap menjadi keraguan masyarakat terhadap pemimpin partai berasaskan keagamaan, tak terkecuali menjelang Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta. Pasalnya, Jakarta sebagai ibukota negara memiliki karakter masyarakat yang heterogen, sehingga membutuhkan pemimpin yang mampu mengakomodasi kepentingan seluruh warga Jakarta tanpa memandang perbedaannya.
Keraguan tersebut pun terjawab oleh Hidayat Nurwahid, calon gubernur yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disandingkan dengan Didi J. Rahbini, kader Partai Amanat Nasional (PAN). Keduanya merupakan partai yang berasaskan keagamaan.
“Pluralisme bagi PKS sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anda tahu bahwa saya pernah menjadi kordinator Indonesia Damai, ada Pendeta Nababan, Romo Mudji, Franz Magnis Suseno, dan mereka nyaman,” tegasnya kepada wartawan di gedung DPP PKS, Jl. TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (19/3/2012).
Ketika pemilu legislatif 2004 lalu, Hidayat mengungkapkan dirinya mendapatkan suara tertinggi di Indonesia, yaitu dari Jakarta. Begitu juga saat dirinya menjadi Presiden PKS saat Pilkada 2007 lalu, sehingga partai berlambang bulan sabit dan padi tersebut memiliki jumlah kursi terbanyak kedua di DPRD DKI Jakarta setelah Partai Demokrat.
“Itu adalah fakta sejarah dan bagian yang bisa diulangi, saya mendapatkan begitu banyak dukungan, dari begitu banyak kelompok warga ada kelompok suku, kelompok lintas agama, pemuda, pelajar, bahkan rekan-rekan kami dari non-Muslim pun memberikan dukungan,” tegas Ketua MPR RI periode 2004-2009 itu
Ia melanjutkan pada saat menjadi Presiden PKS beberapa waktu lalu, dia pernah memimpin aksi damai besar yang diikuti oleh tokoh lintas agama. Semua hal tersebut dikatakan menjadi indikator kesuksesan partai dalam menanggapi isu pluralisme di Jakarta. Karena itu Hidayat merasa optimistis mampu menang dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta.
Ia yakin bisa mengalahkan nama-nama sekelas Fauzi Bowo dan Joko Widodo yang lebih populer karena telah didengungkan sejak lama sebagai salah satu cagub Jakarta. “Siap dua-duanya (kalah atau menang), tapi yang jelas PKS tidak memajukan saya untuk kalah,” pungkasnya.
