Sawahan – Persebaran HIV / AIDS di kompleks Dolly – Jarak tahun lalu cukup mencengangkan. Pada 2011, tercatat ada 99 kasus HIV / AIDS di lokalisasi tersebut. Fakta itu seharusnya menjadi peringatan bagi para lelaki hidung belang yang gemar “jajan” di lokalisasi.
Kepala Puskesmas Putat Jaya dr Hartati menyatakan, jumlah kasus HIV/ AIDS di kompleks Dolly – Jarak pada 2011 memang meningkat bila di bandingkan dengan tahun 2010. Tahun sebelumnya, jumlah HHIV / AIDS di sana 68 kasus. “Tetapi, bukan berarti jumlah kasusnya meningkat. Bisa saja karena jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang mau memeriksakan diri meningkat,” jelasnya.
Namun, jumlah itu tidak hanya dari PSK. Menurut Hartati, ada beberapa warga non-PSK, baik laki-laki maupun perempuan, yang dengan kesadaran sendiri melakukan tes HIV. Dari total kasus HIV / AIDS yang di tangani Puskesmas Putat Jaya, sekitar 10 persen merupakan non-PSK.
Dia mengatakan, tahun lalu jumlah PSK yang mau memeriksakan diri puskesmas memang cukup banyak. Setiap bulan jumlahnya mencapai 500 – 600 dari jumlah PSK 1.126 orang. Sementara itu, yang bersedia menjalani tes HIV secara sukarela melalui VCT (voluntary counseling and testing) sekitar 150 orang. Setiap bulan, pada PSK tersebut akan menjalani skrining penyakit infeksi menular seksual (IMS), sedangkan VCT dilakukan ssetiap tiga bulan.
Namun, Hartati mengatakan, masih banyak PSK yang belum mau memeriksakan diri ke pukesmas, apalagi untuk VCT. Pihaknya, memang tidak bisa memaksa para PSK, “VCT itu harus ada kemauan dari PSK. Mereka yang menjalani tes ini harus menandatangani surat persetujuan. Identitas dan privasi mereka pun terjaga,” paparnya.
Bila sudah ada yang positif HIV/ AIDS, Puskesmas kemudian membina PSK tersebut supaya berobat ke RSUD dr Soetomo. Mereka juga diberi pemahaman agar berhenti dari pekerjaan yang memiliki risiko tinggi untuk tertular dan menularkan oenyakit seksual dan HIV/ AIDS itu. Namun selama ini, lanjut dia, PSK positif HIV / AIDS yang mau berhenti dari pekerjaanya masih sangat minim.
Fakta mencengangkan di kompleks lokalisasi Dolly-Jarak itu juga menjadi perhatian anggota dewan. Ketua Fraksi PKS Fatkur Rohman mengatakan, fakta tersebut menegaskan, apa pun alasanya, prostitusi selalu memberikan dampak negatif. “Perlu solusi yang integral dan komprehensif serta melibatkan semua elemen untuk mengatasi permasalahan tersebut,” ujar ketua Komisi D itu.
Mantan ketua DPD PKS Surabaya itu mengatakan, saat rapat dengar pendapat di komisi D beberapa waktu lalu, dinas kesehatan mengakui bahwa tidak semua PSK mau dan patuh melakukan pemeriksaan ke puskesmas. Bahkan, ada beberapa orang yang tidak bertanggungjawab membantu PSK sehingga mereka bisa mengantongi bukti bahwa mereka sehat.
Fatkur menyebut, orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu bisa dari RT/ RW atau bahkan aparat pemerintahan sendiri sebagai pegawai puskesmas. “Padahal, bila pemkot memang memiliki good will, sebenarnya kebocoran-kebocoran itu bisa di tekan karena ada daftar nama PSK dan wisma,” katanya.
Meski dinkes dan puskesmas mengaku tidak bisa memaksa para PSK untuk memeriksakan diri, seharusnya pemkot tidak bisa lepas tangan begitu saja. “Kan, bisa koordinasi dengan RT/ RW atau ketua wisma. Kalau kemauan pemeriksaan kesehatan diserahkan ke PSK, ya sama dengan bohong.” (dew/c6/end)
Sumber Media : Koran Jawa Pos 22 Pebruari 2012