Ketika saya kelas 5 SD, saya ikut perlombaan gerak jalan tingkat SD se daerah Bojonegoro, kota kelahiran tercinta. Walaupun tidak memenangkan satupun medali yang diperebutkan namun ada satu hal yang tidak akan pernah saya lupa yaitu ‘Kehadiran’ Ibu saya untuk setia menemani saya di sebelah barisan guna men ‘support’ dan memastikan saya dalam keadaan baik-baik saja. ‘Kehadiran’ Ibu saya sungguh merupakan sesuatu yang istimewa bagi saya dan ini jelas berbeda dengan ‘Ketidakhadiran’ beberapa Ibu temen saya pada saat itu. Hari itu, betul-betul saya merasa menjadi seorang ‘anak’.
Kisah diatas sungguh menyadarkan kita bahwa ‘Kehadiran’ adalah salah satu ‘HADIAH’ yang istimewa yang bisa kita berikan pada orang lain. Bahkan ke ‘istimewa’ annya tidak bisa digantikan dengan kecanggihan teknologi apapun, apakah itu telepon, Email, SMS, Video conference dan lain sebagainya. Dia akan tetap mempunyai rasa dan posisi tersendiri yang tidak tergantikan.
Kenyataannya, kita sering lupa bahwa hadiah ini cukup terasa manfaatnya bagi orang lain apalagi jika “dikemas” dengan cukup baik layaknya sebuah hadiah. Dan juga akan terasa akibatnya jika kita tidak sering memberikannya. ‘Kehadiran’ yang ‘on time’ tentu lebih baik dari hadiah ‘Keterlambatan’ apalagi hadiah ‘Ketidakhadiran’.
Semisal di sebuah aksi sosial atau aksi simpati yang melibatkan massa yang banyak sebagaimana yang biasa kita lakukan, ‘Hadiah’ ini cukup efektif untuk menjadi penyemangat. ‘Hadiah’ ini juga cukup bisa menjadi penenang bagi mereka yang datang disebuah acara yang pesertanya sedikit. Bahkan, ‘HAdiah’ ini juga mungkin akan sangat berarti bagi seseorang yang lagi dirundung masalah.
Sungguh sangat sulit dipungkiri bahwa masih banyak sekali manfaat dari ‘HADIAH’ ini. Dan jangan sekali-kali meremehkannya. Marilah kita berlatih dan membiasakan diri untuk berlomba memberikan hadiah “kehadiran” ini kepada orang lain. Karena suatu saat, sangat mungkin, justru kita yang merindukan datangnya “HADIAH” ini. (Fat)
April 30, 2008 @ 9:42 pm
apalagi kalau sudah menjadi pemimpin, pasti akan selalu merindukan kehadiran anak buahnya.
“Kenapa si fulan tidak hadir dan tidak ada kabarnya? apa dia sakit atau apa?,
Kenapa antum terlambat yaa akhi? apa yg menghalangi antum koq sampai terlambat?,
Kenapa? dimana? ada apa dg si ini, si itu? ….”
kita perlu “merasa” menjadi pemimpin yang selalu memperhatikan dan menghargai anak buahnya walaupun sebenarnya kita di posisi sebagai anak buah.
kalau saja setiap kader bisa sadar untuk menghargai orang lain, maka keterlambatan dan ketidakhadiran akan lebih sedikit kita jumpai