Panitia khusus Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Walikota (LKPJ) periode 2005-2010 menemukan beberapa kejanggalan data yang disampaikan oleh pemerintah kota. Hal ini terungkap saat pansus melakukan hearing tentang data kesehatan bersama dinas kesehatan di gedung DPRD, Senin (7/6). Kejanggalan data yang dimaksud, adalah seputar pencapaian indikator kesehatan dalam LKPJ.
Menurut Fatkur Rohman, Wakil Ketua Pansus LKPJ, dari hearing yang dilakukan pansus, terdapat peluang angka-angka pencapaian indikator kesehatan menurut RPJMD 2005-2010 tidak tercapai. Hal ini didasarkan pada, beberapa data hanya didapat dari survey atau asumsi, bukan pendataan riil. “ Misalnya, angka kematian bayi, tertulis sama persis di tahun 2007 dan 2008 yakni 9,79 per 1000. ini ada kejanggalan data. Belum lagi data kelahiran hidup melonjak dari 7051 tahun 2008 menjadi 52.697 tahun 2009” ungkap politisi komisi D asal PKS ini.
Fatkur menyesalkan, jawaban dinas kesehatan saat hearing mengatakan bahwa di dua tahun itu dinkes hanya memakai survey, dan baru tahun 2009 baru dilakukan pendataan riil. “ masak dalam satu tabel tentang angka kematian bayi yang dipaparkan dalam LKPJ itu kesimpulannya keliru, karena ada tahun yang pakai data survey asumsi, dan ada tahun yang pakai data riil” ungkap ketua Fraksi PKS ini. Hal yang sama juga ditemukan pada data angka kematian ibu melahirkan dimana, pada dua tahun berturut-turut angaknya sama, yakni 7 meninggal dari 7051 kelahiran hidup.
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah data tentang gizi buruk. Target yang disampaikan dinas kesehatan mengatakan status gizi buruk tahun 2009 semestinya kurang dari 1 % (atau <1%). Tapi faktanya tahun 2009 angkanya mencapai 1,39 %. “ Berarti ini tidak mencapai target yang sudah ditetapkan dalam RPJMD Surabaya. Padahal dana untuk dinas kesehatan selalu naik tiap tahunnya, ini perlu dievaluasi” protes Faktur Rohman
Atas temuan kekacauan data tersebut, pansus LKPJ meninta pemkot untuk segera melakukan perbaikan. “ Dewan minta agar ketidak konsistenan data tersebut segera direvisi kalau masalah data saja tidak tepat, apalagi implementasi dari kebijakan pemkot yang masyarakat” ungkap anggota komisi D itu.
Lampiran data yang ditemukan saat Hearing :
ANGKA KEMATIAN BAYI
- · Tahun 2006 : 13 meninggal dari 519 kelahiran hidup atau 25,05 / 1000
- · Tahun 2007 : 69 meninggal dari 7.051 kelahiran hidup atau 9,79 / 1000
- · Tahun 2008 : 69 meninggal dari 7.051 kelahiran hidup atau 9,79 / 1000
- · Tahun 2009 : 483 meninggal dari 52.697 kelahiran hidup atau 9,16 / 1000
ANGKA KEMATIAN IBU MELAHIRKAN
- · Tahun 2006 : 1 meninggal dari 519 kelahiran hidup atau 193/ 100.000
- · Tahun 2007 : 7 meninggal dari 7.051 kelahiran hidup atau 99,28 / 100.000
- · Tahun 2008 : 7 meninggal dari 7.051 kelahiran hidup atau 99,28 / 100.000.
- · Tahun 2009 : 483 meninggal dari 52.697 kelahiran hidup atau 81,6/ 100.000
STATUS GIZI BURUK
- o 2006 = 2,09 %
- o 2007 = 1,96 %
- o 2008 = 1,81 %
- o 2009 1,39 % (tidak mencapai target RPJMD)
Data ini mengacu pada total balita 2008 sebanyak 114.108 balita dan 136.155 balita di tahun 2009, berarti ada penambahan kelahiran balita sebanyak 22.047 dalam tahun 2008-2009. Namun anehnya terjadi perbedaan dengan data lain di buku LKPJ Walikota yang mengatakan bahwa tahun 2009 ada 52.697 kelahiran balita baru, mana yang dipakai ? 22.047 atau 52.697? Bisa disimpulkan bahwa capaian status gizi buruk menjadi jelas karena data yang tidak konsisten dan tidak melalui pendataan riil namun memakai asumsi atau terkadang memakai sampling survey. Data dinas kesehatan Surabaya amburadul.