Hukum sebab-akibat mengatakan bahwa ganjaran yang kita peroleh dalam hidup ini akan selalu dalam proporsi tepat dengan sumbangan yang kita berikan.
“Berilah dan engkau akan menerima” Betapa sederhananya pernyataan itu, tetapi betapa jauh yang dapat dijangkau hukum tersebut.
Seekor kelelawar perlu mengeluarkan (baca : memberi pancaran) cahaya dari matanya pada malam hari ketika dia ingin mendeteksi (baca : menerima informasi tentang) benda dihadapannya. Ketika dia terbang dan ada suatu benda didepannya maka cahaya dari matanya mengenai benda itu dan memantul sehingga dia bisa mendeteksi keberadaan benda tersebut untuk kemudian menghindari tubrukan dengannya.
Ada pepatah mengatakan bahwa “Kalau ayunan bergerak ke depan, ia juga akan bergerak ke belakang”. Jika kita mempunyai sebuah mobil BMW, toh dia tidak akan banyak memberikan sesuatu kepada kita, bahkan dia enggan mengantarkan kita pergi ke suatu tempat tanpa kita memberi bahan bakar pada dia terlebih dahulu.
Sebagai seorang aktivis yang memahami bahwa Tarbiyah adalah sarana untuk membentuk kperibadian Islami (Syakhsiyah Islamiyah) dan dalam waktu bersamaan sebagai sarana pembentuk karakter da’iyyah maka seharusnya pernyataan diatas bukanlah hal baru, namun terkadang kita lupa untuk lebih jauh mengkajinya. Kita masih sering menemukan diri kita menjadi penuntut yang handal dibandingkan menjadi seorang yang suka memberi tanpa batas. Seorang da’i adalah seorang pelaku dakwah yang dalam tiap waktunya dimanapun dia berada semestinya senantiasa berjuang untuk mencari kesempatan memberi sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa ilmu pengetahuan, pertolongan atau bahkan hanya berupa senyuman karena seorang da’i tahu bahwa kebanyakan orang tidak suka dengan wajah cemberut.
Yang sering menjadi problem adalah kita terlalu banyak alasan untuk tidak mau memberi walaupun sebenarnya kita punya segudang sesuatu yang bisa kita berikan. Langkah pertama mungkin bisa dengan melihat bagaimana kita menyikapi sesuatu itu. Ingatlah bahwa Sikap kita terhadap bakat yang kita miliki itu jauh lebih penting dari bakat itu sendiri.
Seseorang dosen yang punya bakat bercerita sebenarnya punya peluang banyak dalam memberi kebaikan jika dia bisa menikmati mulia-nya jadi dosen namun bagi dosen yang senantiasa minta dihargai kata-katanya, berbicara terlalu banyak mungkin menjadi hal yang melelahkan bagi dia.
Seperti kepastian didalam Al Qur’an bahwa senantiasa manusia punya peluang untuk taqwa dan fujur, untuk sukses dan gagal. Seorang da’i (mukmin) adalah orang yang diberikan posisi oleh Allah sebagai orang yang sukses (Muflihun) karena dia senantisa bisa menyeimbangkan antara sabar dan syukur. Dia senantiasa bisa bersikap bahwa kegagalan adalah bukti bahwa dia masih perlu banyak belajar seperti para nelayan yang meyakini bahwa gelombang besar dan badai akan menjadikan mereka lebih tangguh di laut dan Seorang da’i juga meyakini bahwa setiap pertumbuhan membutuhkan tindakan-amal (baca:memberi). Sehingga wajar jika sudah seharusnya Seorang da’i lebih memikirkan apa yang bisa dia berikan pada Islam sebelum dia berharap merasakan buah kejayaan Islam. Dalam konteks mikro, dia adalah orang yang sibuk berbuat untuk dakwah ini sebelum dia berharap nikmatnya buah dakwah.
Siapa yang tidak menabur, tak akan memetik hasilnya, betapa pun hangatnya matahari, sejuknya hujan dan suburnya tanah.
Allah Maha Besar, penolong terbaik, mewajarkan kita untuk mempunya cita-cita terbaik. (Fat)
Oktober 21, 2008 @ 3:46 pm
bos ijin mengkopi……….