Ada seorang teman, taruhlah dia bernama Agus. Suatu ketika ingin merekrut beberapa orang untuk menjadi staf di organisasi yang dia bergabung di dalamnya. Spesifikasi staf yang dia inginkan salah satunya adalah orang yang siap bekerja di lapangan, dimana sisi fisik lebih dibutuhkan daripada sisi pikir. Setelah berminggu-minggu, akhirnya si Agus menemukan sekelompok anak pengangguran di sebuah kampung di Surabaya dan singkat cerita ditawarkanlah pekerjaan yang dimaksud dan mereka menerima tapi dengan syarat yaitu mereka dibantu agar latihan Bola Voli yang selama ini mereka jalankan bisa lebih optimal berjalan. Agus menyetujui.
Organisasi yang Agus ikuti bukanlah organisasi profit melainkan organisasi sosial sehingga rumus yang dipakai bukanlah fulus tapi rumus perjuangan sehingga siapapun yang bergabung didalamnya harus sangat memahami prinsip ini. Itulah kenapa, setiap orang yang bergabung biasanya harus mengikuti prosesi Training orientasi agar memiliki pemahaman yang ter-standar-isasi. Atau paling tidak, dikondisikan oleh anggota yang merekrut.
Namun tidak tahu kenapa, kali ini si Agus membuat kesalahan. Mungkin karena terlalu semangat karena bisa merekrut sejumlah orang dan melebihi target organisasi, dia jadi lupa proses perekrutan yang standar. Salah satu kesalahan fatal adalah ketika dia mengatakan “ wah kalau masalah seragam dan operasional Bola Voley sih gampang pak, asal bapak mau bantu saya aja, yang lain saya urus..”. Sentuhan awal dengan janji-janji seolah organisasi punya uang banyak sangatlah tidak tepat dan melanggar prinsip organisasi. Memang, pasti ada kompensasi operasional dalam setiap aktivitas sosial organisasi namun pemberiannya senantiasa diiringi dengan bingkai perjuangan.
Sebuah panggilan hati nurani dan motivasi untuk menolong dan bermanfaat bagi sesama lebih sering dikobarkan dibandingkan sekedar beraktivitas apalagi sekedar mengisi waktu luang. Aktivitas di organisasi lebih diyakini sebagai sebuah ibadah. Inilah yang menjadi ruh dan semangat kontinyuitas aktivitas bagi setiap anggota di organisasi. Mereka tidak pernah merasa lelah untuk berbuat dan terus berbuat. Membantu orang lain, mendidik mereka dan mengentaskan mereka dari kekurangan memberikan kepuasan tersendiri yang sulit digambarkan.
Agus lebih kaget lagi ketika menyadari bahwa sekelompok orang yang dia rekrut tidak kunjung bekerja seperti yang dia harapkan dan bahkan pasca ia membelikan seragam dan bola untuk latihan mereka. Mereka hanya suka main Bola Voli dan tidak pernah menyukai aktivitas sosial yang ditawarkan. Senantiasa ada alasan yang mereka utarakan ketika Agus meminta bantuan mereka. Kalaupun membantu, itupun hanya sedikit saja. Bahkan setiap ketemu, mereka lebih banyak meminta sesuatu ke Agus dibandingkan kesiapan membantu. “Pak Agus..gimana kalau kita ditemukan dengan bos bapak, kita butuh perbaikan lapangan nih…bos bapak kan uangnya banyak..nanti saya carikan teman lebih banyak untuk bantu pak Agus”. Agus ternyata salah melewati proses perekrutan. Gaya Agus, yang seolah bisa membantu segalanya, menjadikan mereka memiliki ekspetasi (harapan) yang lebih tinggi dari kenyataan.
Mestinya, Agus harus bisa mengkondisikan mereka secara perlahan-lahan, mengujinya secara bertahap dan pada akhirnya menempatkan mereka pada posisi yang sesuai dengan level loyalitasnya sambil secara terus menerus membina dan mengarahkan mereka. Memang, ini akan lebih membutuhkan waktu dan juga kesabaran namun hasilnya akan lebih matang dan setiap orang akan mendapatkan posisi yang pas tanpa harus merasa terlalu ringan atau terlalu berat.
Kisah Agus ini menggambarkan adanya Sebuah Ongkos Pembelajaran sebagai bagian dari pematangan organisasi dan orang-orang yang terlibat didalamnya.
http:// www.fatkur.net