Tak usah heran Tifatul Sembiring pintar memainkan pantun. Dia lahir di Bukittinggi dengan darah Batak Karo. Optimismenya membawa Partai Keadilan Sejahtera maju ke depan, tak pernah redup. Sambil memamerkan nomor urut 8, Tifatul menunjukkan pula corat-coretnya di atas kertas.
Cantik selendang putri melayu, menata bunga di atas nampan. Kalau ingin Indonesia maju, pilih saja nomor delapan. Begitu bunyi pantunnya.
Setahun ke depan, angka delapan itu memang akan menjadi angka istimewa bagi PKS. Nomor itulah yang akan mereka usung pada Pemilu 2009. Nomor itu yang mereka dapatkan dalam undian nomor urut partai peserta Pemilu di Gedung KPU, Rabu (9/7).
Nomor urut kali ini lebih gampang diingat ketimbang pemilu-pemilu sebelumnya. Pada Pemilu 1999, PK (sebelum menjelma jadi PKS) mendapatkan nomor urut 24. Lalu, pada Pemilu 2004, mereka kebagian nomor 16.
“Ini nomor puncak bagi PKS,” tandas Tifatul Sembiring, Presiden PKS. Angka itu dianggap sebagai nomor hoki karena menjadi simbol rezeki yang tiada putus-putusnya.
Dengan nomor puncak itu, Tifatul tetap menyemburatkan optimisme, bahwa target perolehan suara 20% pada Pemili 2009 bisa tercapai. Dia melihat publik cenderung memilih perubahan. Buktinya, PKS sudah memenangkan pilkada di 10 provinsi, 85 kabupaten/kotamadya.
PKS adalah lambang modernitas sebuah partai. Dia memiliki jaringan intelektual, aktivis, dan simpatisan dari masyarakat dan kaum terpelajar. Itulah yeng menggelembungkan suara PKS. Mereka melakukannya nyaris tak bersuara, tapi membuahkan hasil yang dahsyat. Karena itu, pantun Tifatul memiliki makna yang begitu dalam.
Dalam hal ini, para pengamat politik memperingatkan PKS agar menjadi partai Islamis yang terbuka, bervisi nasionalis, dan mengayomi pluralitas sebagai esensi kebhinnekaan di Indonesia. Sekali PKS membuka diri, meningkatkan kualitas dan menyantuni pluralitas, maka partai Islam ini diprediksi akan mampu melampaui mitos Masyumi yang modern dan maju di masa lalu.
Melihat kenyataan bahwa kepercayaan publik terhadap parpol makin menurun dewasa ini, PKS harus segera melakukan rekonstruksi dan penataan mendasar agar tidak ditinggalkan umat. PKS harus memperbaiki diri demi kepentingan umat jangka panjang.
Selain itu, para analis umumnya menyarankan PKS melakukan reformasi internal. Mereka harus memperluas jaringan sosial dan mempersiapkan kader-kadernya yang mumpuni untuk menyuplai penyelenggara negara yang dapat menyelesaikan masalah di bidang ekonomi, kesehatan, pertambangan, dan bidang-bidang lain.
PKS, sebagaimana parpol lain, ke depan harus berperan dalam memberi solusi dan menyelesaikan persoalan kebangsaan yang multidimensi, khususnya pascapemilu 2009. “PKS harus dapat mencerminkan bahwa PKS membawa Islam rahmatan lil’alamin jika tak ingin ditinggalkan konstituen besarnya,’’ kata analis politik Islam, Al Chaidar.
Mengenai berbagai hembusan isu minor dan fitnah yang melanda PKS, Tifatul Sembiring mengemukakan bahwa PKS menyadari bahwa ada pihak-pihak tertentu yang suka mengadu domba di antara umat. Mereka, pihak tertentu itu, tidak senang bila umat Islam berukhuwwah, bersaudara sehingga dapat berperan lebih produktif untuk mewujudkan NKRI yang berdaulat di tengah persaingan dunia yang kian keras.
Sumber : http://inilah.com