SINDO– Polisi bergerak cepat menyelidiki penyebab kebakaran gedung utama Balai Pemuda. Namun sejauh ini, polisi belum berani menyimpulkan penyebabnya. Kemarin lima petugas laboratorium forensik Polri Cabang Surabaya dan tim identifikasi Polrestabes Surabaya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Lebih dari empat mereka bekerja melakukan pemeriksaan.
Seluruh bagian gedung disisir,mulai lantai, atap, hingga bekas wartel yang diduga menjadi tempat asal muasal api yang akhirnya menjalar nyaris ke seluruh bagian gedung. Kepala Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya, Kombes Pol Subadiyanto mengatakan ada empat titik yang diduga menjadi sumber utama api. Semuanya di bagian pojok gedung atau bekas wartel di sisi timur.” Tetapi kami masih belum bisa menyimpulkan.Paling cepat satu minggu ke depan baru bisa diketahui hasilnya. Apakah dari korsleting listrik atau penyebab lainnya,”katanya.
Pernyataan sama juga disampaikan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Coki Manurung. Menurutnya, penyebab kebakaran baru bisa diketahui jika hasil pemeriksaan tim labfor selesai. ”Sekarang ini tim olah TKP masih bekerja dan menyelidikinya. Jadi ditunggu saja,”tegas Coki. Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya Wiwik Widayati enggan berkomentar lebih banyak. Ia menyerahkan kepada polisi untuk mencari tahu penyebab kebakaran.
”Semua saya serahkan ke polisi. Itu saja. Tidak ada komentar lain ya?” tukasnya. Sementara itu,Kasi Pengendalian dan Pencegahan Bidang Operasional Dinas Kebakaran Surabaya, Ari Bekti Iswantoro mengatakan, mestinya bangunan cagar budaya seperti Ba-lai Pemuda memiliki fire protection system. Sebab usianya yang tua membuat bangunan tersebut rentan rapuh, apalagi menghadapi ancaman kebakaran. Pengelola bangunan cagar budaya, kata dia, seharusnya juga memastikan agar fire protection system selalu aktif.
Dia menjelaskan, tidak berfungsinya fasilitas pemadaman di Balai Pemuda membuktikan bahwa lemahnya pengawasan terhadap sistem perlindungan kebakaran. ”Harus ada introspeksi dari pengelola.Kalau sudah begini, semua bangunan cagar budaya harus mempunyai fire protection system. Pihak-pihak lain nanti ikut mengontrol,” kata Ari pada wartawan Karena itu, Ari meminta agar pengelola bangunan cagar budaya berkoordinasi dengan Dinas Kebakaran dan instansi terkait untuk meningkatkan sistem pengamanan di setiap bangunan.
Setidaknya, di dalam bangunan cagar budaya harus mempunyai ruang panel kontrol dan heat detector.Pemeriksaan terhadap fasilitas seperti hydrant, selang, firebox dilakukan rutin. ”Jangankan kabel, cat terkelupas juga bisa memperparah kebakaran. Kabel yang tidak dirawat, lama-lama kena panas dan getas, kadaluwarsa dan memicu api,”tandasnya.
Dewan Minta Pemkot Evaluasi Hydrant
DPRD Surabaya meminta pemkot segera mengevaluasi penyediaan hydrant dan alat bantu kebakaran lainnya.Anggota Komisi D dari PKS Fatkur Rohman mengatakan, macetnya hydrant dan selang yang rusak di Balai Pemuda juga menjadi salah satu faktor yang memperparah kebakaran. Bila saja hydrant dan selang yang ada masih berfungsi dengan baik,kebakaran bisa lebih cepat dipadamkan.
”Macetnya hydrant dan rusaknya selang membuat proses pemadaman api yang muncul dari ruang bekas warung telepon (wartel) di belakang gedung Balai Pumuda menjadi terhambat.Akhirnya, mau tidak mau harus menunggu petugas PMK datang ke lokasi kejadian,”tandasnya. Hal ini disayangkan banyak pihak.Sebab,sebelum petugas PMK datang,di lokasi kejadian sudah banyak orang yang berkerumun. Mulai Wakil Ketua DPRD Surabaya Wisnu Sakti Buana dan beberapa pegawai Sekretariat DPRD Surabaya.
Fatkur menambahkan, Dinas Kebakaran harus pula melakukan evaluasi. Utamanya terkait pengamanan pengamanan di area ring satu,seperti kantor pemerintahan, gedung DPRD,bangunan cagar budaya dan sebagianya. Kebakaran Balai Pemuda kemarin patut menjadi pembelajaran. Kalau kebakaran Senin (19/9) tidak segera diatasi tentunya bakal merembet ke bangunan di sekitarnya.
”Cek hydrant dan lain-lain semestinya harus rutin.Harus menjadi pelajaran bagi setiap gedung tua,dari sisi pengaman,potensi kebakaran, kondisi kabel listrik dan SDM (sumber daya manusia) yang jaga,” imbuh pria asli Bojonegoro ini. Anggota Komisi D lainnya, Masduki Toha berharap pemkot segera membangun kembali bangunan cagar budaya tersebut. Politisi PKB ini siap mengawal pengajuan anggaran yang diperlukan. Kendati demikian Masduki tak menjamin usulan anggaran bisa melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK).
Selain waktunya sudah mepet, pembangunan kembali gedung Balai Pemuda memerlukan lelang yang memakan waktu. Karena itu, Cak Duki, sapaan akrabnya, lebih setuju kalau anggaran diajukan lewat APBD 2012. ihya’ ulumuddin/ soeprayitno