Kata Syawal berasal dari kata Syala, berarti naik atau meninggi (irtafa’a). Karenanya, semangat dan aktivitas Ramadhan dan juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti Sholat lail, tilawah al qur’an, mendatangi dan memakmurkan masjid, zakat, infaq dan shodaqoh, semangat menuntut ilmu, kepedulian kepada sesama atau kesetiakawanan sosial, kejujuran, kesabaran, disiplin, takwa, harus tetap nyata dan bisa kita pertahankan pada bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya sepanjang hidup kita. Jadi, Syawal, sesuai dengan makna harfiahnya, dapat disebut sebagai bulan aktualisasi nilai-nilai.
Peningkatan dan aktualisasi nilai-nilai di atas, agaknya memang perlu kita ingat. Tidak semua kita mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan itu. Bahkan tidak sedikit dari kita yang kemudian mengabaikannya bersamaan dengan berlalunya bulan suci itu. Kenyataan ini berlawanan dengan prinsip istiqamah yang selama ini kita yakini sebagai bagian penting dari kehidupan beragama kita. Nuansa Idul Fitri yang penuh dengan nuansa kegembiraan karena bertemu kerabat terdekat maupun temen-teman lama saat pulang kampung, terkadang secara tidak sadar menjadikan suasana ubudiyah yang selama ini bisa kita rasakan di bulan Ramadhan tiba-tiba menurun secara perlahan dan pasti. Tilawah al Qur’an dan Qiyamul lail yang biasanya menjadi kenikmatan di bulan ramadhan terasa berat kita lakukan.
Saudaraku yang kubanggakan, sebelas bulan kedepan adalah saat melihat apakah tarbiyah kita di bulan Ramadhan mempunyai arti dan pengaruh bagi kita, keluarga kita, masyarakat dan bangsa kita? Sejauh mana Ramadhan mampu mengobarkan motivasi dan bisa menjadi energi bagi kita semua guna secara terus menerus memberikan kemanfaatan bagi ummat. Marilah kita segera bangkit saudaraku, sadar kembali, khususnya bagi kita yang sempat terlena dengan nuansa liburan idul fitri sehingga amalan menjadi menurun, mari kita kuatkan kembali tekad untuk menghidupkan nilai-nilai Ramadhan.
”Jihad siyasi”, perjuangan kita lewat ranah politik, 2009, semakin hari semakin dekat. Tetap luruskan niat, ingatlah bahwa terjunnya kita di dunia politik semata untuk melebarkan sayap kebaikan, mempercepat transformasi menuju Masyarakat madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat. Masyarakat Madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong-royong menjaga kedaulatan Negara.
Semoga energi Ramadhan ini terus menguat, menggelora dan bergemuruh untuk kemudian mewujud menjadi aksi-aksi nyata pemenangan ”nilai-nilai kebaikan” yang bisa memberikan kemanfaatan di masyarakat khususnya di kota Surabaya. Marilah kita pancarkan energi itu untuk memberikan harapan dan perubahan, kepada kerabat terdekat kita, tetangga-tetangga kita, teman-teman kita baik yang lama dan yang baru, relasi-relasi kita dan seluruh masyarakat Surabaya yang berinteraksi dengan kita.
Semoga kemenangan yang kita impikan dan kita perjuangkan ini semakin dekat. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang terlibat mewujudkannya, berjuang dengan segala kemampuan kita, tanpa letih dan lelah, bekerja keras dengan harta dan jiwa kita bersama seluruh kader, simpatisan dan masyarakat Surabaya dengan penuh jiddiyah (kesungguhan), istiqomah (konsisten) dan penuh nuansa ukhuwah (kebersamaan)
Taqobbalallahu Minna Waminkum, Shiyamana wa shiyamukum, Kullu ‘Aamin wa Antum Bikhoir” Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Ramadhan tahun yang akan datang, amin.