PK-Sejahtera Online: Ada empat poin yang menjadi tema sentral pembicaraan saat Dubes Inggris Martin Alan Hattful berkunjung dan berdiskusi dengan Presiden PKS, Tifatul Sembiring di kantor DPP PKS di Mampang Kamis sore (8/1). Turut serta dalam diskusi adalah Ketua Biro Diplomasi Internasional PKS, DR. Taufik Rawi dan Political Counsellor Julia Nolan.
Tema pertama yang dibahas adalah permasalahan Palestina. Dalam permasalahan yang disebut “krisis timur tengah” oleh Dubes Hattful ini, Pemerintahnya bersama dengan Uni Eropa melalui PBB telah berupaya untuk dapat dilahirkannya resolusi PBB untuk mengakhiri permasalahan Israel-Palestina. Dari pembicaraan ini juga, Dubes Hattful menghendaki semua pihak yang terlibat perang melakukan gencatan senjata dan duduk bersama. Merundingkan perdamaian di Timur tengah.
Dalam hal ini, PKS sendiri telah meminta pada Presiden SBY agar dapat melakukan inisiasi perdamaian di Timur tengah dan berperan aktif mengajak negara-negara arab dan uni eropa menyelesaikan masalah Palestina.
Dubes Hattful juga mengatakan tentang adanya kemungkinan juga bahwa invasi Israel ke Gaza di akhir masa kepemimpinan presiden AS, George W. Bush adalah untuk mendapatkan dukungan dari presiden terpilih AS, Barack Obama.
Terkait dengan AS, Tifatul Sembiring menyampaikan tentang PKS yang telah mengirim surat kepada Bush melalui kedutaan besar AS di Jakarta tentang invasi Israel yang didukung AS.
Tema kedua adalah tentang permasalahan perekonomian. Presiden PKS, Tifatul Sembiring menyampaikan bahwa perlu adanya prioritas dalam belanja negara Indonesia. Kemudian juga perlunya memenuhi swasembada pangan dan ekonomi karena Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam.
Mengingat tentang krisis finansial global, Dubes Hattful mengatakan,”Negara Inggris dan eropa lainnya mulai merasakan dampak krisis ekonomi dimana Inggris dan beberapa negara eropa mengalami negative economic growth dan bertambahnya jumlah pengangguran akibat PHK”. Menanggapi krisis ekonomi global ini Presiden PKS, Tifatul Sembiring berharap negara-negara dunia dapat bahu-membahu menyelesaikan krisis ini.
Ketiga, tema yang menjadi pembicaraan adalah mengenai pemilu di Indonesia. Dubes Hattful mengaku cukup bingung dengan banyaknya jumlah parpol di Indonesia ditambah ketegasan ideologi partai di Indonesia yang cair. “Tidak setegas tradisi politik di Inggris” ujar Hattful. Namun dia berharap pemilu 2009 di Indonesia dapat tertib, damai dan aman. Siapapun yang akan jadi pemenangnya.
Ketika ditanya Dubes Hattful tentang rencana PKS untuk pemenangan pemilu, Tifatul menjawab, “Untuk mencapai target dua puluh persen pemilu nasional, PKS sedang memperluas cakupan pemilihnya. Khususnya pemilih muda dan kalangan nasionalis sekuler”.
Masalah calon pemimpin, Tifatul menambahkan, “Itu akan diputuskan oleh Majelis Syuro PKS setelah pemilu legislatif”. Tifatul juga mengatakan bahwa tokoh nasional yang ada sekarang rata-rata sudah berusia diatas enam puluh tahun. Sehingga, pemilu 2009 adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk memimpin bangsa ini. Setelah itu, saatnya kaum muda untuk tampil oleh karena itu kaum muda ini perlu diberi kesempatan yang luas untuk terjun di eksekutif dan legislatif.
Keempat adalah tema tentang hubungan Inggris dan Indonesia. Mengenai tema ini Dubes Hattful mengutip pernyataan dari Presiden SBY yang mengatakan bahwa volume investasi Inggris di Indonesia adalah di urutan kedua dari yang terbesar. Senada dengan Hattful, Tifatul menyampaikan bahwa Indonesia berkepentingan dengan hubungan dagang dan investasi dengan Inggris. “Hubungan dagang dan investasi dengan Inggris sangat mungkin untuk ditingkatkan dan diperluas setelah pemilu 2009” tambah Tifatul.
Dalam kesempatan pertemuan ini pula, secara spesifik, Ketua Biro Diplomasi Internasional PKS, DR. Taufik Rawi menyampaikan kepada Political Counsellor Julia Nolan, PKS berniat membangun hubungan diplomatik dengan parpol dan lembaga think tank di Inggris.
Februari 3, 2009 @ 2:18 pm
Assalamu’alaikum akh fatkur bagaimana kabarnya ?