Kualitas air surabaya yang bisa Ready to Drink menjadi tema yang mencuat saat hearing Pansus LKPJ walikota 2013 dengan PDAM Surabaya, 20 mei 2014.
“Pemerintah kota saya pikir sudah berkali-kali melakukan studi banding ke luar negeri, termasuk ke kota Kitakyushu Jepang yang terkenal dengan pengelolaan air dan limbahnya, sudah saatnya Surabaya memberikan layanan air siap minum atau Ready to Drink dan PDAM harus mengarah ke sana,”kata Fatkur Rohman, anggota Pansus LKPJ.
Direktur Operasional PDAM, Sunarno mengatakan, sebenarnya secara teknologi sangat memungkinkan namun memang ada kendala teknis yaitu kondisi pipa air PDAM di seluruh Kota Surabaya yang mencapai 5.400 KM sudah berusia tua dan perlu penggantian secara bertahap.
“Ini dikarenakan keberadaan pipa air lama yang terbuat dari besi jenis Calvanis kurang memberi jaminan terhadap kualitas air minum. Dengan diganti dengan pipa berbahan plastik dipastikan bisa lebih menjamin kualitas air siap minum nantinya. Setidaknya dalam setahun ditarget pergantian mencapai 5 persen saja. Ini dikarenakan tingkat kesulitan penggantian pipa air PDAM cukup tinggi dan perizinan dari Pemkot yang agar rumit,” ucap Sunarno.
PDAM saat ini juga sedang melakukan uji coba KASM (Kran air siap minum) di 4 lokasi Yakni, KASM SMPN 30, SMAN 16, Terminal Bratang dan Kelurahan Jambangan. Air dari pipa PDAM masuk ke cartridge filter untuk menyaring partikel- partikel kecil. Lalu air masuk ke cartridge granularunyuk menyaring kontamiasi organik. Terakhir, air kembali disaring dengan cartridge carbon block serta lampu ultraviolet untuk membunuh kuman sekaligus virus. Ini adalah bentuk komitmen PDAM yang secara bertahap akan merealisasikan air siap minum walaupun sementara masih ujicoba di dunia pendidikan dan terminal.
Jadi, PDAM berkomitmen untuk mewujudkan air Ready to drink ini dalam waktu dekat, kemungkinan akan dimulai dengan memetakan kira-kira daerah mana yang siap untuk implementasi, karena memang problemnya bukan pada teknologi apalagi anggaran. Untuk anggaran pembangunan jaringannya, dipastikan tidak akan mengambil dari APBD Surabaya, karena PDAM Surabaya dinilai mampu membiayai semua dengan anggarannya sendiri.
“Sebenarnya yang perlu dikaji adalah kesiapan masyarakat bahwa betul-betul mereka itu butuh air siap minum, ada kesadaran, termasuk kita harus menghitung willing to pay masyarakat, apakah nanti ada subsidi atau tidak, jangan sampai juga terlalu memberatkan warga. Atau, mungkin bisa diterapkan di daerah-daerah tertentu untuk pilot project, sehingga masyarakat bisa melihat langsung sebelum terimplementasi ke mereka”, tambah Fatkur.
Isu lain yang terungkap saat hearing adalah perihal kebocoran air PDAM yang mencapai hampir 29 %. Dalam paparan PDAM,solusinya adalah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada harus terus melakukan pergantian meter air usia di atas 5 tahun. Hal itu dilakukan karena diduga tingginya kehilangan air salah satunya diakibatkan meter air yang sudah tidak valid.
“Nantinya kita akan melakukan pergantian meter air pelanggan hingga menyasar seluruh pelanggan diatas 5 tahun, juga pergantian pipa-pipa air yang sudah berumur tua seiring program air ready to drink tadi,” pungkas Sunarno