Pengadaan jaringan IT di lingkungan Pemkot Surabaya dengan biaya milyaran rupiah ternyata belum mampu mengintegrasikan system pelayanan public dan kearsipannya. Fatkur Rohman, anggota Komisi A, menyebut untuk kota sekelas Surabaya, apalagi akan menghadapi MEA 2015, seharusnya memiliki sistem kearsipan daerah yang terintegrasi. “Integratif secara penyimpanan dan pengolahan,” kritiknya.
Fatkur menerangkan kebutuhan jaringan IT untuk kearsipan misalnya data aset di kelurahan dan SKPD-SKPD harus terintegrasi di badan arsip. Sehingga bisa mengevalusi kondisi aset secara keseluruhan. “Kalau tinggal klik kan Wali kota bisa langsung mengetahui arsip-arsip tanpa harus menunggu diberi arsip fisiknya,” terang Fatkur.
Sementara mengenai jaringan FO (Fiber Optik) dan internet yang sudah terhubung antar SKPD bahkan ke seluruh kelurahan, Fatkur meminta agar Pemkot segera mengoptimalkan penggunaannya. “Sebenarnya tinggal aplikasi dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dipergunakan untuk mengintegrasikan system dan data pelayanan publik,” katanya.
Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Pemerintah Kota Surabaya, Arini, menyampaikan bahwa kendala utama adalah kesiapan jaringan FO (fiber Optik), namun insyaAllah jaringan itu akan siap bulan nopember 2014 ini. “Mohon Komisi A bisa cross check ke dinas Kominfo untuk jelasnya, aplikasi arsip daerah insyaAllah siap”, papar Arini.
“Kita akan mengadakan koordinasi tri-wulanan dan nanti akan menghadirkan Kominfo dan Badan Arsip. Bahkan saya memiliki bayangan bahwa arsip-arsip di kelurahan, kecamatan dan SKPD itu perlu di alih media kan dari paper menjadi paperless misal dalam bentuk file scanner agar bisa diolah secara mudah di aplikasi nantinya. Jika memang diperlukan kita akan support anggaran misalkan pengadaan scanner di kecamatan dan kelurahan”, pungkas Fatkur.