Refleksi tahun baru Muharam 1429 Hijriyyah
…Barangkali di sana ada jawabnya/ mengapa di tanahku terjadi bencana/ mungkin Tuhan mulai bosan/melihat tingkah kita/yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita/coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
Syair lagu Ebiet G Ade tersebut sepertinya masih cukup relevan untuk menjelaskan berbagai kejadian dan bencana yang menimpa negeri ini. Bencana seakan tidak pernah berhenti. Tanah longsor dan banjir bandang meluluhlantakkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Ratusan nyawa melayang dan ribuan mengalami luka-luka berat dan ringan. Muncul pula musibah kecelakaan di udara dan di laut; sebut saja kecelakaan pesawat Adam Air, Garuda, dan Lion Air serta tenggelamnya kapal Levina satu yang menewaskan ratusan orang.
Mengawali tahun 2008 dan 1429 hijriyyah, bangsa Indonesia kembali di timpa berbagai bencana, salah satunya adalah banjir akibat penebangan liar dan luberan sungai Bengawan Solo yang begitu dahsyat dan juga tanah longsor yang terjadi begitu merata menimpa beberapa daerah di Jawa barat, Jawa Tengah dan Jawa timur seperti Banten, Solo, Kudus, Klaten, Ngawi, Sragen, Karang Anyar, Tulungagung, Trenggalek, Madiun, Ponorogo, bergerak terus ke arah timur; Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik. Banjir besar yang mencapai 2-3 tiga meter tersebut telah menenggelamkan ribuan rumah dan menghancur infrastruktur daerah.
Di Karanganyar, Jawa Tengah, bencana banjir menelan korban jiwa mencapai 60 orang dan meluluhlantahkan ratusan rumah dan bangunan lainnya. Di Jawa Timur, 40 orang lebih di berbagai daerah meninggal dan hilang. Ribuan orang kehilangan harta benda dan orang yang sangat dicintainya. Dan ribuan warga menjadi pengungsi. Kerugian materiil diperkirakan mencapai ratusan milyar rupiah. Sebuah bencana terbesar dalam sejarah banjir di Jawa Timur.
Kenapa ada Musibah ?
Bencana dan musibah yang menimpa negeri kita ini berlangsung silih berganti. Tak kenal waktu, tempat dan sasaran. Satu hal yang harus menjadi bahan refleksi dan renungan bagi kita anak negeri adalah mengapa negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini sering di landa bencana?. Menurut logika kita, negeri dengan penduduk muslim terbesar, dengan tingkat kehidupan yang cukup religius, negeri yang namanya Indonesia ini mestinya relatif lebih aman dan nyaman atau dalam istilah agama, mestinya negeri ini penuh dengan kelimpahan berkah yang turun dari langit dan bumi karena ketaatannya kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Tapi mengapa berkah yang seharusnya turun ke negeri muslim ini berubah menjadi musibah atau bencana? Pasti ada yang salah dengan kita.
Sebagai orang yang beragama kita meyakini bahwa musibah adalah bagian dari kehendak dan kekuasaan Allah atas hambanya. Karenanya, paling tidak ada 2 hal yang senantiasa harus kita renungkan ketika musibah datang kepada kita. Yang pertama, bisa jadi musibah itu adalah peringatan dari Maha Pencipta bagi manusia yang laiai agar beristighfar dan taubat dari kesalahan dan kemaksiatan yang dilakukannya kemudian kembali ke jalan yang benar. Yang kedua, musibah merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman untuk bersabar dari setiap musibah yang menimpanya dan hukuman bagi orang-orang yang dzalim dan kufur kepada sang Maha kuasa.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). QS Ar Ruum (30) : 41
Momentum Hijriyyah
Perputaran waktu terus bergulir seiring dengan perputaran matahari. Dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan, tanpa terasa kita sampai pada suatu putaran bulan Muharam yang merupakan permulaan dari putaran bulan dalam kalender hijriyyah. Dengan segala yang telah terjadi selama satu tahun yang lalu, termasuk berbagai bencana yang telah menimpa negeri tercinta ini, seharusnyalah bulan Muharram ini bisa menjadi momentum evaluasi (muhasabah). Semoga kita bisa menatap masa depan yang lebih baik.
Untuk Indonesia yang lebih baik, marilah kita senantiasa melihat musibah ini dari tiga dimensi : dimensi keimanan, dimensi keilmuan dan dimensi kemanusiaan. Semoga cara pandang seperti ini bisa menjadikan kita lebih bijak mengartikan musibah yang terjadi di negeri kita.
Dimensi keimanan mengajak kita untuk merenung, mempelajari dan menangkap hikmah dari tanda-tanda zaman ini. Kemudian marilah kita bermuhasabah, mendekatkan diri kepada Allah, beristighfar dan bertaubat dari segala kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Awal Muharam ini mestinya bisa menjadi momentum instrospeksi diri terutama bagi para pemimpin negeri ini. Sebagian besar bencana dan kerusakan alam yang terjadi adalah ulah tangan manusia yang begitu serakah dalam mengelola alam. Ada sesuatu yang salah dalam menajemen negara ini dan itu adalah tanggung jawab para pemimpin negeri ini.
Dimensi keilmuan mengharuskan kita untuk mengantisipasi sebab-sebab gempa dan bencana alam lainnya kemudian berikhtiar secara ilmiah untuk mengurangi korban baik jiwa maupun harta. Apa yang terjadi di sekitar kita selama beberapa tahun terakhir setidaknya bisa dijadikan sebagai pelajaran berharga. Para pakar lingkungan atau orang-orang yang memiliki keilmuan yang terkait dengan masalah ini harus disinergikan. Ini menjadi tugas bersama kita khususnya para pemimpin negeri ini. Marilah kesadaran kita bangun dari diri kita untuk kemudian secara bersama-sama kita bentuk kesadaran kolektif terhadap masalah ini.
Dimensi kemanusiaan memanggil kita untuk peduli, tanggap dan cepat membantu saudara kita dengan segala daya dan potensi yang Allah berikan kepada kita. W. Somerset Maugham mengatakan “Tragedi hidup yang terbesar adalah bukan binasanya manusia, melainkan hilangnya rasa cinta dalam diri manusia.” Tentu, cinta dimaksud adalah cinta yang dilandasi rasa kasih sayang. Harapan kita, di tahun baru ini, kepedulian sosial dan kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kesalehan individu haruslah selaras dengan kesalehan sosial (habluminallah & habluminannas).
Mari kita songsong matahari tahun 2008 dan 1429 hijriyyah dengan energi keimanan. keilmuan dan kemanusiaan yang Allah berikan kepada kita. Insya Allah kita mampu mengatasi musibah ini. Allah menjanjikan dalam surah Al A’raf ayat 96; “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakaan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka telah kerjakan”