Ahad, 30 Maret 2008, bertempat di kantor DPD Partai Keadilan Sejahtera Kota Surabaya di Jalan Raya Menur 29 D, Bidang Pembinaan Kader menggulirkan program konsolidasi keluarga qiyadah. Peserta acara yang bertemakan “Mari Kokohkan keluarga untuk menyongsong kemenangan dakwah” ini adalah seluruh pasangan suami-istri (pasutri) jajaran pimpinan tingkat daerah dan Tim inti TPPD (Tim Pemenangan Pemilu Daerah). Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan ditutup dengan ramah tamah sekitar pukul 11.30 WIB.
Selain dihadiri oleh jajaran pimpinan tingkat DPD, acara juga dihadiri oleh Kawilda 1 DPW Jawa Timur, Tri Setijo Purwito dan Ust. Rofi’ Munawar (Anggota Dewan Syari’ah DPW PKS Jawa Timur) yang diundang secara khusus untuk memberikan pengarahan (taujih). Fatkur Rohman, Ketua Umum DPD PKS Kota Surabaya, mengatakan : “Program ini adalah program rutin yang sudah biasa digulirkan dalam rangka menyamakan persepsi khususnya kepada keluarga (pasutri) jajaran pimpinan tingkat daerah PKS.”.
Ust Rofi’ Munawar, LC dalam pengarahan (taujih) nya mengangkat tema “Sinergisitas antara pengelolaan keluarga dengan aktivitas dakwah’. Menurut beliau keluarga adalah ukuran keberhasilan yang pertama bagi aktivis dakwah. Sehingga, tidak boleh ada kader yang karir politiknya “moncer” sedang pengelolaan keluarganya berantakan.
Beberapa poin penting dalam pengarahan (taujih) beliau adalah sebagai berikut :
- Sayid Qutb di dalam Fi dhilaalil Qur’an, mengatakan bahwa keluarga adalah laboratorium pertama untuk mengukur keberhasilan seorang aktivis dakwah. Seseorang yang sukses mengelola keluarganya adalah orang yang layak kita berikan harapan untuk sukses mengelola yang lain, termasuk mengelola negara ini.
- Kisah Nabi Ibrahim menyikapi turunnya perintah pemisahan dari Allah SWT. Keluarga yang satu harus ditempatkan di Palestina (Sarah – istri pertama) dan keluarga satunya di tempatkan di Mekah mukaromah (Hajar dan Ismail).
- Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah sebagaimana diabadikan di dalam QS Ibrahim ayat 37 : …maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ini adalah doa yang sangat mustahil karena Mekah pada waktu itu adalah daerah yang tandus. Tidak ada tanaman. Tidak ada orang. Bagaimana mungkin orang akan mempunyai kecenderungan untuk datang kesana.
- Kondisi Nabi Ibrahim bisa jadi persis apa yang kita rasakan sekarang dimana “kita sedang diwilayah yang banyak orang tidak menyukainya yaitu wilayah perjuangan”, siapa yang mau rela pertemuan sampai jam 1 pagi kalau bukan motivasi ingin menggapai ridho dan Syurga Allah SWT.
- Namun doa itu dikabulkan ketika Allah menakdirkan cerita, kisah, momentum yang akhirnya menjadikan orang berbondong-bondong ke sana yaitu momentum bernama air zam-zam di Mekah. Zam-zam itulah daya tarik pertama mekah. Ini permintaan kemustahilan dari Ibrahim. Allah menjawab dengan realita kelayakan. Senantiasa ada himah dibalik semua perintah Allah
- Ust Rahmad Abdullah pernah mengatakan bahwa tajarrud itu bukanlah, tarqu kulli syai’in lid dakwah (meninggalkan segala-galanya demi dakwah) tapi hamlu kulli syai’in ilad dakwah (membawa semuanya ke dalam orbit dakwah). Teori memang mudah tapi di lapangan ada sisi kemanusiaan yang kadang membuat kita sulit mengimplementasikan.
- Belajar dari Nabi Ibrahim ketika berdialog dengan Ismail sebagaimana disebutkan dalam QS Ash-Shaaffaat : 102 : “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Syuro dalam keluarga adalah suatu perkara yang tidak boleh ditinggalkan apalagi terkait dengan tugas yang membutuhkan pengorbanan.
- Komunikasi dalam berkeluarga sangatlah penting. Ingatlah kisah Abu Tholhah yang saat pulang ke rumah dan saat itu sang anak baru saja meninggal dunia, sang istri tidak langsung memberitahu suaminya namun justru membuat sebuah suasana keharmonisan dengan menyediakan air hangat, mandi bersama, berhubungan dan baru kemudian menyampaikan “Wahai suamiku, bagaimana jika kita dititipi barang kemudian diminta lagi oleh yang menitipkan barang”, jawab Abu tholhah : “Ya di berikan”, Si istri melanjutkan :”Allah menitipkan anak kepada kita dan sekarang anak kita diminta Allah swt..” Sebuah seni komunikasi yang luar biasa.
- Setiap ada masalah, para nabi senantiasa melaporkan kepada Allah SWT.
- QS Al anbiyaa’ ayat 83 : dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
- QS Al anbiyaa’ ayat 87 : Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
- QS Al anbiyaa’ ayat 89 : Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik”
- Apa doa kita selama ini sudah serius saudaraku, apakah istighfar kita serius atau cuma rutinitas habis sholat saja, pernahkah kita menangis untuk istri / suami kita dalam doa-doa kita. Ingatlah ketika Muhamad Al fatih berhasil menaklukkan konstantinopel, semua bertakbir, bergembira namun ada seseorang di sebuah tenda yang tetap berdoa, menangis. Muhammad al Fatih mengatakan : “Sungguh aku bergembira dengan kemenangan ini, tapi yang lebih menggembirakannku adalah guruku masih setia mendoakanku disaat aku meraih kemenangan ini”