Skip to content

1 Comment

  1. maemunah tasik
    Februari 4, 2011 @ 9:04 pm

    Betul, lebih baik hari-hari ini menonton liputan upaya penggulingan di Mesir.
    Kenapa rakyat disini yang sudah sangat susah masih diem dan mau menerima dan enggak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi apa yang dipunyai pemerintah sekarang dong? Hebat ya.

    Sebaiknya media jangan membesar-besarkan evakuasi, toh itu niatnya jauh lebih banyak untuk PENCITRAAN. Jangan menyenangkan pemerintah, sebab mereka sudah senang dan makmur, gaji dan tunjangan mereka jauh dari cukup. Buktinya Megawati bilang gaji dia dulu cukup dan malah lebih, katanya sambil nyengar-nyengir toh. Lebih baik menyenangkan rakyat dengan memberi mereka uang dan makan cukup dengan pengawasan yang baik sehingga uang dan raskin benar-benar sampai ke tangan mereka.

    Mesir sama dengan Indonesia, Indonesia tak lebih dari Mesir, Sama saja, 30 tahun berkuasa bukan lagi ukurannya. Ukurannya adalah apakah mampu mengelola negara dan memakmurkan rakyat secara merata atau enggak.

    Kalau kita lihat GDP Mesir dengan Indonesia, mana lebih banyak dong. Kalau kita lihat jumlah penduduknya, mana yang lebih sejahtera, Mesir atau Indonesia. Kalau kita lihat pembangunan sarana publik, mana yang lebih masif, Mesir atau Indonesia? Atau sama saja. Kalau sama saja, lalu gimana dong setelah melihat di Mesir.

    Itu cara melihat. Itu dari satu sisi, belum yang lain-lain. Indonesia sebenarnya memiliki penduduk meskin lebih banyak, tapi tidak dikatakan.

    Perekonomian katanya membaik, tapi rakyat di negeri kita buktinya banyak yang susah. Mereka banyak yang melarat, terpaksa jadi pemulung, jadi apa saja asal bisa makan, pemeritah enggak pernah membantu mereka kok. Mereka terpaksa cari makan sendiri-sendiri. Sementara orang-orang di eksekutif dan legislatif dan yudikatif hanya main sandiwara, mereka kaya-kaya. Rakyat menerima terus nasib buruknya. Kenapa rakyat susah itu masih mau menerima dan enggak bangkit seperti di Mesir? Jampi-jampi penenang apa yang dilakukan pemerintah sekarang kepada rakyatnya sehingga seakan-akan mereka menerima terus. Rakyat itu padahal banyak yang sudah enggak bisa makan, tidak punya daya beli, tapi diem saja. Sementara harga sembako tidak terjangkau lagi, naik tinggi dan pemerintah membiarkan semuanya mahal. Pengangguran makin banyak.

    Lihat, di jalan-jalan dan di bus-bus, mereka berjubel, semua susah. Sementara yang kaya main kaya. Ini bukan soal berkuasa 30 tahun atau baru 6 tahun. Ini soal kemampuan mengeloal negara. Bagaimana negara bisa menghidupi kalau enggak punya sumber penghasilan, negara enggak punya pabrik, hanya punya satu sumber pendapatan, narikin pajak doang. Apa enggak masuk jurang? Harga sembako tinggi lho kalau dibandingkan di negara-negara lain dari segi penghasilan rata2 masyarakat masing-amsing. Lalu di negeri kita orang Indonesia, lapangan pekerjaan untuk rakyat enggak ada. Mereka petani juga enggak punya sawah, mereka nelayan tidak punya perahu, punyanya hanya motor ojek, lalu ke kota-kota, ngojek. Uang yang didapat enggak ada nilainya. Beda dengan masa Megawati dan sebelumnya. Uang Rp 20 – 50 ribu saja nilainya masih agak lumayan, bisa membeli banyak barang. Sekarang enggak ada. Mereka makin susah sekarang, tidak bisa makan.

    Liputan sebaiknya jangan membesar-besarkan evakuasi. Tujuan dan niat pemerintah lebih banyak untuk PENCITRAAN. Sebetulnya kawan-kawan kita di Mesir tidak menginginkan evakuasi sebab mereka semua MUSLIM bukan BULE lagi jadi teman-teman itu aman kok. Lihat, gemuk-gemuk lagi, pertanda lebih makmur kalau dibandingkan di negeri sendiri, tau. Nanti kawan-kawan kita kalau mau kembali ke Mesir lagi emangnya gratis semua? Siapa yang akan membiayai semuanya? Apa teman-teman kita setelah sampai di Indonesia bisa kembali ke Mesir naik pesawat lagi gratis? Sekarang katanya mereka di Mesir kurang makanan, seperti yang diakui kawan dari Gontor yang disiaran tadi petang oleh sebuah TV, langsung dari Mesir. Bukannya pemerintah SBY kini sudah menganggarkan uang banyak untuk itu semua itu? Untuk evakuasi dll. Kemana sebagian perginya dana itu? Masih ada juga yang suka menyunat atau mem-markup anggaran ya? Ah kau. Transparan dong.

    Jadi dirinci ke publik, semua dana untuk misi evakuasi dan lain-lain itu, berapa untuk kedutaan besar, dan berapa untuk kementerian luar negeri Indonesia sendiri, adakah dan berapa uang saku untuk ongkos pulang kawan-kawan kita ke daerah masing-masing, sebab tidak semuanya tinggal sekitar Jakarta. Sebenarnya, mulanya mereka ingin tetap di Mesir, karena kata mereka bahwa mereka kebanyakan akan ada ujian untuk Masters degree mereka dan ada juga yang untuk ujian S1 mereka, ada yang akan ujian untuk PhD mereka, tapi kacau mereka dibujuk, untuk enggak bilang “dipaksa” pulang, dengan janji-janji nanti ketika kembali lagi ke Mesir semuanya gratis. Jangan mereka dijadikan alat pencitraan.

    Kalau benar-benar niat evakuasi, seperti Malaysia dong, mengirim banyak pesawat militer Hercules, lesehan, tidak memanjakan. Malaysia juga sudah mengirim kapal perangnya untuk evakuasi lebih serius, memuat lebih banyak penumpang, lebih aman lagi. Kita memang dangkal enggak bisa mikir dalam, dalam segala bidang. Malu ah sama Malaysia.

    Reply

Tinggalkan Balasan ke maemunah tasik Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *