Ada sebuah kisah nyata tentang sebuah lembaga komunitas masyarakat yang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Bantuan ini dalam perencanaannya seharusnya diberikan kepada sekitar 200 an warga di sebuah kelurahan, dimana @10 ribu per warga dan dicairkan tiap pekan. Prosedur yang berlaku di pemerintah tersebut, warga pemohon harus diwakili oleh ketua pengurus / komunitasnya untuk mengambil dana terkait. Namun apa yang terjadi, ternyata pada faktanya dan sudah terjadi berbulan-bulan, tidak semua warga yang semestinya terdata mendapat bantuan tersebut, ada sekitar 30% an warga tidak mendapat bantuan, kemudian yang 70% warga pun, dananya tidak turun 100%, dipotong 1000-2000 rupiah. Usut punya usut, ternyata pengurus memainkan uang bantuan tersebut. Parahnya ada yang cletuk : “sudahlah pak, Cuma 1000 rupiah…”. Ini adalah cerita perihal Integritas pemimpin.
Siapapun yang pernah menjadi Leader, dan insyaAllah kita semua adalah leader (pemimpin) di level masing-masing, akan menemui fakta bahwa memang tidak mudah untuk menjaga Integritas.
Karenanya diskusi perihal ini senantiasa tidak akan pernah habis untuk dibahas dan patut direnungkan oleh siapapun, di level manapun, baik sebagai pribadi yang memimpin diri kita sendiri, sebagai kepala / ibu rumah tangga, sebagai tokoh masyarakat (ketua RT/RW, ketua Lansia, ketua PKK, ketua Takmir Masjid, ketua Karang Taruna, ketua Jamaah Pengajian dan lain-lain), sebagai pebisnis/pengusaha, sebagai pimpinan organisasi, sebagai pejabat dan sebagai apapun.Integritas merupakan salah satu sifat atau “kunci” penting yang harus dimiliki seorang leader (pemimpin).
Integritas sering dikaitkan dengan konsistensi seseorang dalam tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan. Orang yang berintegritas adalah orang yang memiliki suatu komitmen mendalam terhadap hal yang benar, alasan yang benar, tidak peduli pada situasi-kondisi yang dihadapi.
Contoh sederhana, Seseorang ibu-ibu pinjam uang 25 ribu ke PKK. Dia yang menentukan tanggal pengembaliannya. Dianya yang melanggar sendiri. Meski terlambat hanya 1 hari dan 25 ribu itu tidak seberapa bagi beberapa orang. Itu namanya sudah tidak on time. Sudah terlambat. Integritas dia sudah cukup untuk dipertanyakan! Kecuali, sebelum hari pengembalian, dia konfirmasi keterlambatan dan menyampaikan kendala-kendala yang bisa diterima dan dipertanggungjawabkan.
Orang yang hidup dengan integritas itu tidak korup dan tidak akan mau dan mampu untuk mematahkan kepercayaan dari mereka yang menaruh kepercayaan kepada dirinya sebagai seorang pemimpin.Kalau dalam hal seorang anggota DPRD misalnya,hal ini berarti para konstituennya; dalam hal pemimpin tertinggi negara hal ini berarti rakyat sendiri, bukan yang lain-lain. Senantiasa memilih yang benar dan berpihak kepada kebenaran adalah tanda dari integritas seseorang.
Selain kisah-kisah riil di masyarakat sebagaima dicontohkan diatas, kita sudah sangat sering mendengar pula bagaimana para caleg / politisi yang Ingkar Janji alias tidak jujur. Ini memang tantangan bagi mereka yang dipercaya menjadi anggota DPR / DPRD, mengingat bahwa ini bukan hanya asumsi tapi fakta yang terjadi di lingkungan masyarakat kita. Lihatlah ilustrasi dibawah ini.
Ketika kampanye, ada seorang caleg berjanji bahwa jika dia didukung dan jadi anggota dewan maka dia akan membangun ini dan itu, memberangkatkan warga ke sana dan ke situ, gaji nya 100% untuk masyarakat, akan mudah dihubungi – tinggal telpon saja, tapi apa yang terjadi saat dia betul-betul jadi anggota dewan. Kebalikannya semua. Bahkan “nongol” saja sangat jarang dengan berbagai alasan, dihubungi tidak bisa. Si Amggota dewan ini ada catatan dalam hal Integritas.
Sekali lagi, tidak bias dipungkiri tantangan utama seorang pemimpin atau calon pemimpin adalah hidup dan memimpin dengan integritas. Dengan demikian dia tidak hanya menguntungkan orang-orang yang dipimpinnya, melainkan juga akan menikmati damai-sejahtera dalam kehidupan pribadinya dan Insya Allah akan mengalami sukses yang lebih besar dalam berbagai urusan yang ditanganinya.
Dan saya mengamati, insyaAllah akan selalu ada orang berintegritas yang hadir ditengah-tengah kita, dan semoga orang itu salah satunya adalah kita. Baik kita sebagai pribadi, sebagai teman, sebagai kolega, sebagai tokoh masyarakat sebagai pejabat dan lain sebagainya, ingatlah..
Sadar ataupun tidak kehidupan yang kita jalani sekarang ini seperti kita melempar bola pada dinding. Sebesar apa kebaikan yang kita lakukan, sebesar itu juga kebaikan itu kembali ke kita. Sebesar apa keburukan yang kita buat maka sebesar itu juga keburukan itu kembali pada kita.
“Ketika kau merasa letih dalam melakukan kebaikan maka sungguh keletihan akan segera sirna dan kebaikannya akan abadi. Sekiranya kau merasa bahagia melakukan dosa dan maksiat, ketahuilah bahwa kebahagiaannya akan segera sirna padahal dosa dan kemaksiatannya akan abadi.” (Ali bin Abi Thalib ra)