Minat baca warga Surabaya, menurut hasil survey yang dilakukan Badan Arsip dan Perpustakaan (BAP) yang bekerja sama dengan pihak ketiga, sangat kecil. Dari hasil survey tahun 2010, diketahui jika 54 persen warga Surabaya membaca kurang dari 3 buah buku dalam sebulan. Mengapa ini bisa terjadi?
Fakta lain disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan budaya membaca sebagai akses utama mendapatkan informasi. Mereka lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) dari pada membaca Koran (23,5%).
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu indikator rendahnya minat baca masyarakat dapat dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah penerbitan buku di Indonesia masih jauh dibawah penerbitan buku di negara-negara berkembang seperti Malaysia, India atau negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.
Namun fakta juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga tidak tersedia waktu untuk membaca. “Hanya kalangan tertentu saja yang benar-benar mencurahkan waktunya untuk membaca dan menulis. Seperti wartawan, guru, dosen, peneliti dan pustakawan. Itupun dalam jumlah yang terbatas.
Pengaruh budaya dengar, tonton, dan media elektronik yang berkembang pesat juga memperparah kondisi tersebut. Kebiasaan orang tua di rumah juga belum memotivasi anak-anak untuk gemar membaca, ditambah lagi kurang tersedianya bahan bacaan yang sesuai dengan usia anak-anak.
Selain sekolah sebagai institusi yang mengajarkan membaca, peran orang tua khususnya ibu sebenarnya sangatlah berpengaruh. Seorang ibu memiliki waktu jauh lebih banyak dibandingkan ayah. Anak juga lebih dekat dengan ibu. Ibu punya kekuatan luar biasa untuk membentuk anak. Kalau ibu menggunakan peranannya dalam konteks memberikan contoh yang baik bagi anaknya, seperti membaca, Insya Allah anak akan memiliki minat baca yang baik.
Buku adalah salah satu pilar penting dalam membangun karakter bangsa. Karena buku bukan sekedar memberikan kita segudang ilmu pengetahuan. Atau sekedar memuaskan dahaga intelektualisme kita. Mengenyangkan akal kita semata. Namun buku juga memiliki peran dalam membentuk cara berpikir, bertutur dan berbuat. Buku bisa menguatkan jiwa yang ringkih. Itulah buku, benda yang memiliki andil besar dalam melahirkan peradaban-peradaban bersar di muka bumi ini.
Buku, demikian besar pengaruhnya dalam menentukan arah dan kebesaran sebuah peradaban. Tidak heran bila banyak negara begitu peduli terhadap minat baca bangsanya. Berbagai langkah dan upaya dilakukan agar minat baca warganya meningkat. Berbagai stimulus diberikan untuk mendorong agar warganya memiliki kebiasaan atau budaya membaca. Kita bisa mencontoh Jepang dalam membangun budaya baca warganya. Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 minutes reading of mother and child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu utuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh dari upaya Jepang dalam meningkatkan budaya baca warganya.
Kurang tersedianya buku-buku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau diyakini menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca di negara kita. Hal itu diperparah minimnya perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau. Juga kurang memadainya koleksi, fasilitas, dan pelayanan yang ada. Termasuk, tidak meratanya penerbitan dan distribusi buku ke berbagai daerah. Umumnya, buku-buku terbaru dan bermutu lebih terkonsentrasi di kota-kota besar saja.
Langkah Badan Arsip dan Perpustakaan (BAP) Pemkot Surabaya dalam bentuk menghadirkan rumah baca, taman baca di balai-balai RW, perpustakaan besar, perpustakaan keliling sampai mendirikan perpustakaan di sekolah-sekolah serta menyarankan penyediaan sudut baca di keramaian umum seperti di hotel dan mall, patut diapresiasi dan didukung.
Memang, menumbuhkan dan meningkatkan miant baca tidaklah semudah membalik telapak tangan. Namun, Tidak ada kata terlambat untuk memulai membiasakan budaya membaca. Mulailah dari kita sendiri, berilah keteladanan pada anak-anak kita di rumah dengan menyediakan buku-buku berkualitas dan bacaan yang seusai dengan usia anak-anak.
Daya dukung program sistemik dari pemerintah serta sinergi dengan program-program swasta misalnya program CSR maupun program-program lembaga swadaya masyarakat akan terasa sempurna jika dihadirkan keteladanan para orang tua untuk menghidupkan budaya membaca di rumah-rumah keluarga Indonesia. Slogan “Membaca adalah Jendela Dunia” insyaAllah akan terwujud di negara kita tercinta, Indonesia.