Bhirawa. Urbanisasi sebagai dampak samping ritual lebaran diminta segera diantisipasi oleh pemkot Surabaya. Jangan sampai urabnisasi menyebabkan meningkatnya kemiskinan dan kawasan kumuh di kota Surabaya.
Anggota Komisi D, Fatkur Rohman, Selasa(14/8) menyebut pemkot harus menyiapkan langkah-langkah penanganan urbanisasi pasca lebaran agar beban atas kemiskinan dan munculnya kawasan kumuh kota tidak semakin meningkat.
“Setidaknya harus ada pantauan dari tingkat kelurahan yang menggandeng RT dan RW, untuk mendeteksi masuknya penduduk baru di lingkungan masing-masing,” terang Fatkur.
Dengan adanya deteksi dan pantauan pergerakan penduduk ini, lanjut Fatkur, pemkot akan mempunyai data awal sehingga kebijakan antisipasi dampak urbanisasi bisa segera diambil.
“Orang datang ke Surabaya itu biasanya bekerja, wisata atau belajar. Yang jadi problem kalau niatnya untuk bekerja, tapi belum ada pekerjaan tetap di Surabaya,” tambahnya.
Urbanisasi sendiri, lanjut Fatkur didorong oleh beberapa kondisi ekstrem di daerah antara lain penyempitan lahan pertanian, sedikitnya lapangan pekerjaan dan keinginan masyarakat untuk menjadi kaya secara cepat.
“Kondisi tersebut memicu masyarakat untuk memutuskan pergi ke kota besar, seperti surabaya guna mengadu nasib. Apalagi saat lebaran dengan tadisi glamor masyarakat mudik, mereka melihat ada kesempatan lebih baik di kota besar,’ tambah Fatkur yang asli Bojonegoro ini.
Namun celakanya, lanjut mantan dosen Unmuh Malang ini, banyak kenyataan yang menyebut kaum urban ini kurang memiliki skill yang dibutuhkan dengan standar di perkotaan. Selain itu tambahnya, perbedaan budaya juga menambah problem di kota tujuan.
“Yang akan terkena dampak beban ekonomi dan social secara serius kan kota tujuan. Seperti muncul banyak pengangguran dan bahkan mereka terkadang tinggal di daerah yang terlarang atau liar, seperti pinggir sungai . gat