Jum’at, 14/03/2008 16:37 WIB
Pengirim: Irwan setiawan – DetikSurabaya
Jakarta – Memperingati Hari Perempuan Internasional, Bidang Kewanitaan PKS Jatim mengunjungi 7 pasien gizi buruk yang dirawat di RSD Dr Soewandhi Surabaya, Jumat (14/3/2008).
Kunjungan diikuti oleh Dyah Pelitawati (Humas Pos Wanita Keadilan PKS Jatim), Ratri Handayani (Pengurus Bidang Kewanitaan DPD PKS Kota Surabaya), Sinta Yudisia (Aktivis Pos Wanita Keadilan PKS Jatim) dan Dewi Maryam (Ketua Bidang Kewanitaan DPD PKS Kota Surabaya).
Ke-7 pasien gizi buruk itu diberi bingkisan berupa susu, kornet dan sejumlah uang untuk pengobatan sebagai simbol upaya untuk turut serta menyelesaikan persoalan gizi buruk di Jatim.
Mereka yakni, Khoirul (11 bulan) yang berat badannya 4,5 kg, lailatul (17 bulan) berat badan 7kg, Fitria (18 bulan), Abdul Malik (5), Rahmadani (18 bulan), Robi (16 bulan) dan Yusan (7).
“Kami sangat prihatin dengan masih banyaknya kasus gizi buruk di beberapa kota di Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, Jember, Pamekasan, dan Ponorogo. Hal itu menunjukkan masih rendahnya pemahaman tentang gizi balita di kalangan masyarakat kita. Sementara itu, keterbatasan ekonomi keluarga juga semakin membuka peluang
untuk terjadinya gizi buruk karena keluarga tidak mampu lagi memberikan asupan makanan yang? bergizi bagi anak-anaknya,” ujar Dyah Pelitawati, Humas Pos Wanita Keadilan PKS jatim.
Masalah gizi buruk, kata dia, memerlukan penanganan yang melibatkan banyak pihak. Namun Pemerintah sebagai penentu kebijakan memegang peranan yang sangat penting untuk menuntaskan persoalan Gizi buruk ini. Bagaimana APBD memiliki keberpihakan terhadap rakyat kecil.
Sementara Dewi Maryam, Ketua Bidang Kewanitaan DPD PKS Kota Surabaya mengharapkan agar masyarakat peduli terhadap lingkungan di sekelilingnya.
“Jangan sampai kehidupan yang berat ini makin menghilangkan kepekaan sosial mereka terhadap kondisi orang-orang di sekelilingnya. Optimalisasi Peran Posyandu semestinya bisa mengantisipasi korban akibat gizi Buruk. Pemantauan secara berkala oleh posyandu dan puskesmas terhadap balita dapat mendeteksi lebih dini kondisi para balita didaerah kerjanya,” ujarnya.
Pihaknya mengimbau para ibu untuk kembali kepada ASI. Kesadaran para ibu kembali kepada ASI akan berdampak kepada ketahanan para balita. “Para Ibu juga harus lebih memiliki kesadaran akan Gizi yang baik pada fase menyusui,” ujarnya.
Pihaknya berharap, pemerintah agar lebih banyak mengalokasikan dana untuk penanggulangan gizi buruk. Kami tahu alokasi dana itu sudah ada. Tapi jumlahnya masih minim dari jumlah yang minim itupun masih sedikit prosentasenya yang langsung menyentuh penderita.
“Anak adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan. Jangan sampai kita menyesal kehilangan aset bangsa yang berharga, yaitu anak-anak bangsa yang sehat dan berkualitas. Karena kelak merekalah pemegang estafet kepemimpinan bangsa ini,” pungkas Dyah Pelitawati. (pksjatim@indosat.net.id) (fat/fat)